Sunday, February 22, 2009

MALAYSIA DALAM MEMBINA SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN: SEJARAH, TENTANGAN DAN HASIL YANG DICAPAI


Oleh:
Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M.Sc.[2]
Karakteristik Penduduk Malaysia
Pembicaraan tentang denyut nadi pembangunan di Malaysia, khususnya pembangunan pendidikan, tidak mungkin dapat diresapi dengan baik tanpa meninjau ciri dari penduduknya.

Negara Malaysia terdiri atas wilayah-wilayah Semenanjung Malaysia atau Malaysia Barat, Sabah dan Sarawak. Sebelum masa kemerdekaan Malaysia Barat lebih dikenal dengan sebutan "Semenanjung Tanah Melayu" atau "Tanah Melayu". Sabah dan Serawak terletak di pulau Kalimantan.
Dewasa ini penduduk Malaysia berjumlah sekitar 22 juta orang. Berlainan dengan Indonesia, berbagai statistik di Malaysia, apakah itu statistik tenaga kerja dan kegiatan ekonomi, persekolahan, rumah tangga, kesehatan, penduduk kota dan desa, status sosial, dll, pada umumnya disajikan menurut jalur pilahan etnis atau perkauman. Tiga kaum atau kelompok etnis yang terbesar di Malaysia ialah etnis Bumiputera (Melayu) yang jumlahnya 51 % dari seluruh jumlah penduduk, etnis Cina, 38 % dari seluruh penduduk, dan etnis Tamil (India), 10 % dari jumlah penduduk. Yang selebihnya terdiri dari berbagai kelompok "Orang Asli" atau suku asli yang telah mendiami Malaysia sebelum orang Melayu mulai mendiami Semenanjung Melayu sejak 2500 tahun yang lalu. Suku-suku asli ini terdiri atas kaum Iban, kaum Bidayuh (Dayak Barat), Bajau, Dusun, Murut, Kadazan, Loh Dayuh, Orang Sungei, dan Suang Latut. Kebanyakan bilangan kaum asli ini bermastautin di Sabah dan Sarawak.
Besarnya jumlah penduduk Cina dan India di Malaysia berpunca dari campur tangan Inggeris melalui strateginya menguasai Pulau Pinang dalam tahun 1786, Singapura dalam tahun 1819 dan menubuhkan Negeri-negeri Selat (Pulau Pinang-Seberang Perai, Melaka dan Singapura) dalam tahun 1826. Administrasi penjajahan Inggreris di masa itu banyak memerlukan tenaga buruh untuk meningkatkan kemajuan ekonomi Inggeris. Timah dan getah amatlah penting bagi empayar Inggeris untuk membangun industrinya setelah Revolusi Industri mulai bergulir di Eropah pada awal abad ke-19. Tujuan ekonomi Inggeris itu segera diikuti dengan kebijaksanaan untuk membuat orang Cina beramai-ramai berhijrah dari negeri asalnya terutama dari Kwangtung dan Fukien ke Semenanjung Tanah Melayu, dan kemudian juga ke Sabah dan Sarawak. Mereka dipekerjakan di tambang-tambang timah, di perkebunan-perkebunan getah yang baru dibuka, dan juga di ladang-ladang gambir dan lada. Penghijrahan orang-orang India mulai pula terjadi secara beramai-ramai sejak tahun 1840-an, mula-mula untuk dipekerjakan di kebun-kebun tebu, kopi dan kelapa, kemudian untuk menjadi buruh pula di kebun-kebun getah. Direncanakan sekitar 7,5 juta orang Cina memasuki Tanah Melayu hingga tahun 1940, namun hanya sekitar 2,5 juta orang yang menetap di Tanah Melayu selepas waktu itu.
Imigran India kebanyakannya (90 %) terdiri dari orang Tamil yang berasal dari Madras di India Selatan. Selebihnya ialah orang-orang Telugu, Malayati, Punjabi dan Selon (Negara Srilangka yang sekarang). Sampai dengan tahun 1970, sekitar 70 % penduduk Bumiputera berdiam di daerah pedesaan dan terutama bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Sedangkan 80 % penduduk Cina dan 88 % penduduk India tinggal di kota-kota. Dalam tahun 1971, hak milik saham-saham orang Melayu dalam perusahaan-perusahaan di Malaysia hanya sebesar 4,3 % sedangkan orang bukan bumi putera dan orang asing sebesar 95,7 %. Hal ini tidak terlepas dari akibat strategi pemerintah kolonial Inggeris yang menginginkan agar orang Melayu tetap tinggal di desa-desa serta menjadi petani dan nelayan serta memperoleh kerja-kerja yang tidak memerlukan ketrampilan tinggi. Penduduk kota kebanyakannya terdiri dari orang-orang Cina dan India. Sebagai gambaran, dalam tahun 1947 statistik penduduk kota-kota di Malaysia pernah mencatat lebih 1,4 juta orang Cina (68,3 % dari seluruh penduduk perkotaan), 234.000 orang India (11,4 % dari seluruh penduduk perkotaan), sedangkan kaum Bumiputera hanya 360.000 orang (17,4 % dari seluruh penduduk perkotaan).
Politik dan Kekuasaan Negara Malaysia
Dari telaahan mengenai pendidikan di Malaysia dalam tulisan ini hendaknya kita akan memperoleh indikasi, bahwa sejarah, politik, dan sistem kekuasaan negara sangat mempengaruhi upaya sesuatu bangsa membangun pendidikannya. Oleh karena itu, berikut ini akan diuraikan mengenai politik dan pembagian kekuasaan antara pemerintah nasional dengan pemerintah-pemerintah negeri di Malaysia.
Malaysia yang semula dijajah oleh Inggeris selama kira-kira hampir 200 tahun, menjadi suatu negara merdeka sejak tahun 1957. Malaysia ialah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berbentuk negara persekutuan atau federal. Suatu negara federal bermakna bahwa ia memiliki suatu sistem pemerintahan yang terdiri dari pada sejumlah negara bagian yang masing-masingnya mempunyai pemerintahannya sendiri guna mengurus sendiri hal-ikhwal kehidupan rakyatnya, dan yang dikontrol oleh sebuah pemerintahan di tingkat nasional. Pemerintahan nasional itu bertanggung-jawab dalam membuat keputusan mengenai hubungan luar negeri, pertahanan, dan beberapa hal pembangunan dan pemeliharaan pembangunan di masing-masing negara bagian seraya menjaga keselarasan dan perpaduan di antara negara-negara bagian sebagaimana yang telah ditetapkan dalam sistem perundang-undangan negara.
Pembagian kuasa dan tanggungjawab antara Pemerintahan Persekutuan di tingkat nasional dengan Pemerintahan Negeri di tingkat negara bagian terkandung dalam undang-undang dasar negara Malaysia yang disebut Perlembagaan Persekutuan. Perlembagaan tersebut terdiri dari pasal-pasal yang disebut Perkara-perkara. Perkara-perkara yang termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan memuat daftar atau senarai yang menjelaskan mana-mana hal yang tertakluk kepada kuasa dan tanggungjawab Pemerintahan Persekutuan di tingkat federal (pusat), senarai tentang mana-mana hal yang tertakluk kepada Pemerintahan Negeri di tingkat negara bagian, dan senarai yang menjelaskan mana-mana pula kuasa dan tanggungjawab yang menjadi hak dan wewenang bersama antara Pemerintah Persekutuan dan Pemerintah masing-masing negeri. Kuasa membuat undang-undang tentang hal-hal yang menjadi hak dan tanggungjawab Pemerintah Persekutuan berada di tangan Parlemen yang berkedudukan di ibukota negara, yaitu Kuala Lumpur. Kuasa membuat undang-undang yang menjadi hak dan tanggungjawab masing-masing negeri berada dalam tangan Dewan Undangan Negeri di masing-masing negeri (yaitu semacam DPRD). Para Anggota Dewan Undangan Negeri disebut ADUN yang dipilih melalui pilihan raya (pemilu) setiap lima tahun. Adapun kuasa membuat undang-undang tentang hal-hal yang tidak dimuat dalam salah-satu dari tiga senarai itu disebut kuasa baki atau "kuasa tersisa", dan kuasa itu menjadi hak dan tanggungjawab Dewan Undangan Negeri di masing-masing negeri, dan bukan tanggungjawab Parlemen.
Menurut ketiga senarai di atas ada 19 hal yang menjadi hak dan tanggungjawab Pemerintah Persekutuan, sembilan hal yang menjadi hak dan tanggungjawab Pemerintah di masing-masing Negeri dan sembilan pula hak dan tanggungjawab bersama antara Pemerintah Persekutuan dan masing-masing Negeri.
Negara Persekutuan Malaysia terdiri dari 13 Kerajaan Negeri, yang berstatus negara bagian, yaitu Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Selangor, Perak, Terengganu, Pulau Pinang, Kedah, Perlis, Kelantan, Sabah dan Sarawak. Kecuali Melaka, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak yang tidak diperintah oleh raja, sembilan dari Kerajaan Negeri yang selebihnya itu masing-masing diperintah oleh seorang raja yang bertitel sultan, dan yang memerintah di masing-masing Negerinya secara turun-temurun. Tiap Negeri memiliki sejumlah daerah. Setiap daerah terdiri atas sejumlah mukim, dan tiap mukim terdiri lagi atas sejumlah kampung. Khusus mengenai Melaka perlu dicatat, bahwa Kerajaan Melaka pernah merupakan salah-satu kerajaan yang terjaya di Nunantara ini di sekitar enam hingga tujuh abad yang lalu. Kerajaan Melaka terletak di pantai Timur Selat Melaka dan pernah diperintahi oleh delapan orang raja dan sultan berturut-turut selama satu seperempat abad antara tahun 1400 hingga 1528. Melaka terkenal gigih melawan penjajah Portugis dan mempunyai sejarah politik, diplomasi, hubungan dagang internasional, kepahlawanan, kebudayaan (khususnya kesusasteraan Melayu) yang gemilang. Ironisnya, sekarang Melaka tidak memiliki raja lagi, sehingga tidak termasuk dalam Majelis Raja-Raja Malaysia.
Ke dalam persekutuan Malaysia termasuk pula Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur selaku wilayah ibu kota negara yang kepala pemerintahannya disebut Datuk Bandaraya, dan Wilayah Persekutuan Labuan, sebuah pulau lepas pantai barat daya Sabah yang telah berkembang menjadi sebuah pusat industri.
Kepala Negara Malaysia ialah Yang Di-Pertuan Agung, yang berhak dipanggil dengan sebutan Duli Yang Maha Mulia (DYMM). Sehari-harinya ia sering disebut sebagai "Agung", bila masyarakat berbicara satu-sama-lain yang menyebut-nyebut namanya. Seorang Yang Di-Pertuan Agung memerintah Malaysia selama lima tahun. Ia berasal dari kalangan raja-raja Melayu yang sedang memerintah. Raja-raja itu mempunyai suatu majelis yang seperti telah diutarakan di muka disebut Majelis Raja-Raja. Majelis Raja-Raja-lah yang memilih seorang Yang Di-Pertuan Agung di antara mereka sendiri secara bergilir setiap lima tahun atau kurang dari lima tahun bila Yang Di-Pertuan Agung yang sedang menjadi Kepala Negara tiba-tiba mangkat dalam masa jabatannya.
Sepintas lalu, khususnya bagi kebanyakan orang yang bukan orang Malaysia, Yang Di-Pertuan Agung tampaknya hanya selaku seorang kepala negara yang bersifat simbol tertinggi negara saja, dan yang hanya menjalankan tugas protokoler tertinggi di dalam urusan-urusan kenegaraan, misalnya menerima kunjungan kepala negara asing. Tetapi bukan hanya begitu saja halnya, karena Perlembagaan Persekutuan (Undang-Undang Dasar) Malaysia menetapkan bahwa setiap undang-undang yang dibicarakan di Parlemen hanya lulus untuk diberlakukan, bila mendapat mengesahan dari Yang Di-Pertuan Agung dan Parlemen. Di samping itu sebagai Kepala Negara yang Di-Pertuan Agung juga berhak melakukan tiga hal penting, yaitu: (1) melantik Perdana Menteri yang telah dipilih oleh rakyat melalui proses pemilihan umum yang langsung; (2) tidak mempersetujui permintaan membubarkan Parlemen; dan (3) meminta agar diadakan musyawarah Majleis Raja-Raja tentang keistimewaan, kedudukan, kemuliaan dan kebesaran Raja-Raja.
Sejarah Perkembangan Pendidikan di Tanah Melayu hingga Perang Dunia Kedua
1. Pendidikan orang Melayu. Seirama dengan berawalnya sejarah pendidikan Islam di daerah-daerah lain di Nusantara, pendidikan di Tanah Melayu mulai melembaga sejak abad ke-15, ketika orang Melayu, khususnya dari kalangan istana raja-raja mulai memperoleh pendidikan agama Islam melalui guru-guru Al-Qur'an yang terdapat di kampung-kampung dari keturunan Sayyid. Sambil menjadi imam di surau-surau dan mesjid-mesjid, Sayyid-sayyid itu juga mengajar anak-anak dalam pelajaran agama. Bahan-bahan pelajaran yang diajarkan tajwid, fardhu 'ain, rukun Islam, rukun iman, dan menulis huruf-huruf Al-Qur'an serta tulisan Jawi. Tradisi demikian berjalan hingga abad ke-17.
Dalam abad ke-18 perkembangan pendidikan agama Islam di Semenanjung Tanah Melayu mulai maju pesat dengan berhijrahnya beberapa orang alim ulama dari Timur Tengah ke Tanah Melayu. Salah seorang dari padanya berasal dari Bagdad, yaitu Syarif Muhammad yang kemudian terkenal dengan gelar 'Tok Pulau Manis" dan bermastautin (bermukim) di Terengganu. Ulama ini pernah belajar di Aceh dan Mekah, yang kemudiannya menjadi seorang ulama yang termasyhur. Dengan makin banyaknya para ulama yang berhijrah ke Kelantan dan Terengganu, maka makin luaslah penyebaran pendidikan Islam, terutama di negeri-negeri Melalyu sebelah utara.
Sejak penghujung abad ke-19, pondok-pondok pendidikan Islam telah terdapat di merata tempat di seluruh Tanah Melayu, terutama di Kelantan, Kedah, Perak dan Pulau Pinang. Pendidikan sistem pondok merupakan suatu taraf lebih meningkat dari pendidikan agama di rumah-rumah guru dan di surau-surau. Sistem pendidikan pondok lazimnya bermula dari datangnya tuan guru atau alim ulama dari luar untuk mengajarkan agama kepada orang kampung, terutama kepada masyarakat petani yang tinggal di kawasan penanaman padi. Kebanyakan tuan guru pondok mempunyai pengaruh yang kuat dalam masyarakat di sesuatu kawasan. Mereka memberi pelajaran dengan sukarela. Kemudian, melalui pertolongan orang kampung rumah tuan guru dibangun dan pondok untuk tempat murid-murid belajar didirikan di kawasan yang berdekatan. Tanah tempat berdirinya pondok biasanya milik tuan guru atau “tok guru”, atau diwakafkan atas kerjasama orang kampung. Kurikulum di sistem pondok pun lebih tinggi sifatnya, termasuk tauhid, tafsir, hadist, nahu saraf, tasauf dan doa-doa yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan. Tulisan Jawi dan bahasa Arab turut diajarkan. Bahasa pengantar ialah bahasa Melayu. Masa itu banyak kitab dalam bahasa Arab telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.
Pada masa penjajahan Inggeris, pemerintah kolonial Inggeris mendirikan sekolah-sekolah vernakular Melayu, tetapi bukan untuk mencerdaskan anak-anak Melayu untuk mencapai taraf kemelekan intelektual dan memperoleh derajat keterampilan berusaha yang tinggi. Strategi pendirian sekolah-sekolah Melayu ialah untuk memenuhi selera politik penjajahannya, yaitu seperti saran Arthur Kenion, seorang pegawai tinggi Inggeris, yaitu: [pendidikan bagi orang Melayu] diadakan "agar orang-orang Melayu tetap tinggal di sawah-sawah padi dan supaya mereka tidak hilang kemahiran dan kesenian dalam kerja-kerja menangkap ikan dan kerja-kerja hutan. Mereka agar diajarkan untuk memuliakan kerja buruh, dan supaya tidak semua mereka menjadi kerani", sehingga [dengan demikian] Inggeris "tidak akan menghadapi kekacauan seperti yang terjadi di India akibat pelajaran berlebihan".[3] Jadi, pendidikan bagi orang Melayu hanya sekedar untuk melepaskan mereka dari buta huruf, untuk menjadi petani yang lebih baik dari ibu-bapa mereka atau menjadi buruh, polisi, guru, dan dapat hidup gembira dalam masyarakat kampung. Desakan untuk mengajarkan kemahiran berbahasa Inggeris di kalangan anak Melayu desa telah ditolak oleh pemerintah kolonial Inggeris.
Pada mulanya sekolah vernakular Melayu itu memberikan pendidikan tingkat rendah selama empat tahun dan tidak ada lanjutan setelah itu. Namun keadaan dalam tahun 1930-an telah menunjukkan, bahwa bersama-sama dengan sekolah vernakular Cina dan Tamil,sekolah vernakular Melayu pun telah menjadi enam tahun. Istilah "vernakular" bermakna, bahwa bahasa pengantar yang dipergunakan di sekolah Melalyu ialah bahasa Melayu atau bahasa ibu. Dalam pada itu, pendidikan melalui sekolah Melayu yang dikendalikan Inggeris tersebut tidak mendapat simpati dari orang Melayu sendiri, karena kehadiran anak-anak Melayu di sekolah-sekolah ciptaan Inggeris itu bukan karena keikhlasan hati ibu-bapa mereka melainkan karena paksaan.
Sekolah Melayu pertama ciptaan Inggeris dibuka pada tahun 1875 di Kelang, Selangor. Sekolah Melayu kemudian bertambah jumlahnya menjadi ratusan buah, dan bertabur letaknya di mana-mana tempat di Tanah Melayu. Akibat strategi itu ratusan sekolah Melayu telah dibangun hingga sebelum Perang Dunia Kedua, dan dalam tahun 1938 jumlah anak Melayu yang belajar di sekolah Melayu telah mencapai sekitar 90.000 orang. Sesuai dengan strategi politik penjajahan Inggeris, sampai akhir Perang Dunia Kedua, masyarakat Melayu tetap tidak berubah nasibnya, dan tetap hidup dalam kemiskinan. Dalam pada itu, pencerobohan Inggeris terhadap sistem pengajian Al-Qur'an telah sedikit-banyak menyinggung hati orang Melayu.
Namun, pada awal abad ke-20 hingga menjelang Perang Dunia Pertama, dengan memperoleh pemikiran dari ajaran-ajaran reformis dari Asia Barat, misalnya dari Muhammad Abduh, para pemimpin Islam dari kalangan muda di Tanah Melayu yang disebut "Kaum Muda" telah melahirkan institusi pendidikan Islam yang berbentuk madrasah moderen. Sistem pendidikan madrasah yang ditumbuhkan memiliki kurikulum yang lebih lengkap guna mencakup pendidikan ilmu pengetahuan keduniaan dan ilmu akhirat. Madrasah-madrasah yang pertama didirikan ialah di Singapura dalam tahun 1907, di Melaka dalam tahun 1917 dan di Pulau Pinang dalam tahun 1919. Kemudian dalam kurun waktu antara tahun 1920-an hingga 1940-an madrasah tumbuh bertabur lebih luas di seantero Semenanjung Malaya. Beberapa di antara yang menonjol ialah Madrasah al-Ma'hadil Mahmud di Kedah (1933); al-Madrasah al-Sultan Zainal Abidin di Terengganu (1933); Madrasah al-Haji Taib di Muar, Johor (1920); dan Madrasah al-Mashor di Pulau Pinang (1939). Dengan hadirnya pengajian dan pendidikan berbentuk madrasah, maka sekolah-sekolah Melayu ciptaan Inggeris telah dapat disaingi.
2. Pendidikan orang Cina. Dengan kedatangan imigran Cina dalam jumlah beramai-ramai ke Tanah Melayu, maka kaum Cina pun merasa perlu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Di mana ada masyarakat Cina, atas prakarsa persatuan-persatuan kaum Cina atau pun usaha orang perseorangan yang kaya ditumbuhkanlah sekolah-sekolah vernakular Cina untuk memastikan agar warisan budaya dan bahasa Cina tetap kekal walaupun di perantauan. Sebelum abad ke-20 kurikulum sekolah-sekolah Cina berorientasikan pemikiran di Tanah Besar Cina, termasuk buku-buku teks yang didatangkan dari Cina. Inggeris tidak mencampuri atau menghalangi usaha masyarakat Cina mengembangkan sekolah-sekolah mereka. Tetapi kemudian pada awal abad ke-20, pemerintah Inggeris mulai memantau kegiatan perkembangan sekolah-sekolah Cina dengan menerbitkan suatu Ordonansi Pendaftaran Sekolah pada tahun 1920. Sebabnya ialah pada waktu itu sekolah-sekolah Cina di Tanah Melayu sangat terpengaruh oleh perkembangan di negeri Cina dan menjadi media penyebaran anti pemerintahan Inggeris dan politik Kuomintang. Berlainan dari sekolah-sekolah vernakular Melayu yang dibangun oleh Inggeris, sekolah-sekolah vernakular Cina terdiri dari tiga tingkat: sekolah rendah enam tahun, sekolah menengah pertama tiga tahun dan sekolah menengah tinggi tiga tahun. Untuk dapat mencampuri perkembangan sekolah-sekolah Cina, Pemerintah Inggeris memberikan bantuan keuangan kepada sekolah-sekolah Cina. Namun, akibatnya disiplin proses belajar-mengajar di sekolah-sekolah Cina malah bertambah baik. Usaha mengetatkan pengawalan terhadap sekolah-sekolah Cina dilakukan oleh Inggeris hingga Perang Dunia Kedua. Dalam tahun 1938 sebanyak 86.000 anak-anak Cina bersekolah di sekolah-sekolah vernakular Cina di Semenanjung Malaya.
3. Pendidikan orang Tamil.Sebagaimana masyarakat Cina, pesatnya terjadi pertumbuhan sekolah-sekolah vernakular Tamil terjadi setelah buruh-buruh India beramai-ramai didatangkan ke Semenanjung Malaya antara pertengahan abad ke-19 hingga Perang Dunia Kedua. Sekolah-sekolah vernakular Tamil berkembang di sekitar ladang-ladang kopi, gula, kelapa dan getah, terutamanya di Negeri Sembilan, Melaka, Seberang Perai dan Johor bagian utara. Sebaran sekolah-sekolah Tamil tersebut mengikuti sebaran banyaknya buruh-buruhTamil di berbagai perkebunan tersebut. Jumlah anak-anak Tamail yang bersekolah adalah rendah sekali, khususnya disebabkan oleh sikap masyarakat India yang tidak begitu tertarik kepada sekolah Tamil, karena lebih tertarik kepada sekolah-sekolah Inggeris di kota-kota. Di samping itu sekolah-sekolah vernakular Tamil mengalami kekurangan fasilitas, termasuk guru dan buku-buku. Sikap pemerintah Inggeris pun tidak tidak memperhatikan bantuan terhadap sekolah Tamil.menjelang tahun 1930 terdapat empat jenis sekolah Tamil di Tanah Melayu: (1) sekolah pemerintah; (2) sekolah perkebunan; (3) sekolah yang berdiri sendiri; dan (4) sekolah yang dibangun oleh para pendakwah Kristen. Dalam tahun 1938 sekitar 23.000 anak-anak Tamil bersekolah di sekolah-sekolah yang memakai bahasa pengantar bahasa Tamil.
4. Pendidikan Inggeris. Sekolah-sekolah Inggeris sepenuhnya menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggeris. Sekolah Inggeris terdapat di kota-kota. Pada dasarnya, pendakwah-pendakwah Kristen yang telah memegang peranan dalam memajukan perkembangan sekolah-sekolah Inggeris di Semenanjung Malaya. Hal itu sehubungan dengan pemerintah Inggeris tidak ingin pendidikan Inggeris yang berlebihan diberikan kepada kaum Bumiputera dan kaum-kaum pendatang, karena takut meningkatnya kesadaran politik untuk menentang penjajah oleh golongan yang telah berpendidikan. Bila pun ada pendidikan Inggeris, sekedar hanya cukup untuk dipergunakan bagi bekerja di kantor-kantor pemerintah. Namun sejak tahun 1905 telah terpaksa pula didirikan sebuah sekolah Inggeris yaitu Maktab Melayu Kuala Kangsar atas hasil rundingan pembesar-pembesar Melalyu dengan pemerintah Inggeris. Sekolah Inggeris itu mendapat julukan "Malay Eton", karena corak kurikulum yang dipergunakan ialah model sekolah-sekolah "Grammar" di Inggeris. Tujuan pendirian sekolah itu ialah untuk mengekalkan elitisme di kalangan bangsawan Melayu. Pendirian sekolah Inggeris untuk kaum bangsawan ini mempunyai implikasi yang besar pada masyarakat Melayu, karena menyadarkan orang Melayu golongan bawah untuk turut pula memperoleh pendidikan Inggeris. Sekolah-sekolah tersebut adalah yang terlengkap dan mengikuti pendidikan seperti sekolah-sekolah di Inggeris. Dalam tahun 1938 sebanyak 58.000 anak Melayu menjadi murid sekolah-sekolah Inggeris.
5. Perkembangan sistem pendidikan dalam tahun 1930-an.
Data dalam tahun 1930-an menunjukkan, bahwa sekolah-sekolah menengah telah dikembangkan pula dan di atas pendidikan menengah telah berkembang berbagai jenis maktab dan sekolah teknik. Bahasa yang dipakai di sekolah-sekolah itu pada dasarnya tetap berdasarkan jalur bahasa ibu masing-masing kaum, yaitu aliran Melayu, aliran Cina, dan aliran Tamil. Di samping itu telah berkembang pula sekolah aliran Inggeris yang memungkinkan para lulusan mengikuti pendidikan hingga ke maktab-maktab di Tanah Melayu dan universitas di luar negeri. Maktab ialah sekolah tinggi yang memberikan pendidikan keguruan, pertanian, dan kedokteran. Aliran sekolah Cina memungkinkan lulusan meneruskan ke pendidikan tinggi di negeri Cina.
Dari berbagai keterangan di atas terlihat, bahwa sistem persekolahan di Tanah Melayu yang dikembangkan di masa penjajahan Inggeris membuat berbagai kaum yang memang berasal dari kelompok etnis yang berlainan menjadi bertambah terkotak-kotak dalam kaumnya masing-masing. Ketimpangan sosio-ekonomi dan psikologis yang berakibat dari itu menimbulkan masalah-masalah besar yang harus dikoreksi secara keras di kemudian harinya.
Tragedi 13 Mei 1969 dan Dasar Ekonomi Baru
Pada tanggal 13 Mei 1969 terjadi suatu peristiwa berdarah akibat meruncingnya ketidak-adilan terhadap penduduk Bumiputera yang merenggut banyak jiwa dan menyebabkan kerusakan harta benda masyarakat. Ia telah meninggalkan kesan hitam yang mendalam di kalangan rakyat Malaysia. Peristiwa itu dipicu oleh kampanye pemilihan umum yang terlalu lama di mana terjadi tuding-menuding antara kaum untuk meraih suara terbanyak. Tragedi tersebut terjadi segera setelah hasil pemilihan umum tahun 1969 diumumkan. Hasil-haasil itu menunjukkan partai-partai pembangkang , yaitu DAP dan partai Gerakan menunjukkan kemenangan yang sangat menonjol. Menurut Haji Abdul Halim Ab. Rahman dan rekan-rekan yang menulis buku "Malaysia Kita" yang diterbitkan Institut Tadbiran Awam Negara (INTAN) Kuala Lumpur tahun 1991, "untuk merayakan kemenangan itu ada yang mengambil kesempatan untuk merendahkan dan menghina orang Melayu. Ekoran dari penghinaan tersebut partai [United Malays National Organisation, yaitu partainya orang Melayu yang telah memerintah sejak Malaysia berdiri] telah berusaha menganjurkan suatu perarakan kemenangan dalam pemilu tersebut. Partai UMNO juga menang, tetapi perolehan suara kedua "rakan kongsinya , yaitu Malaysian Chinese Association (MSA) dan Malaysian Indian Congress (MIC) pada keseluruhannya telah merosot". Kedua partai itu sudah selalu menjadi kongsi UMNO dalam membentuk pemerintahan. Perarakan-perarakan kemenangan itu telah menaikkan semangat kedua belah pihak, yaitu di pihak Melayu dan di pihak bukan Melayu. Perarakan-perarakan provokatif itulah yang telah membakar semangat yang memicu terjadinya kerusuhan 13 Mei tersebut.
Sesuai dengan pandangan INTAN, tragedi 13 Mei memberikan amaran kepada Malaysia untuk "perlunya diadakan suatu perpaduan masyarakat yang dapat dijadikan pegangan dan panduan bagi masyarakat Malaysia untuk hidup dengan aman dan berbaik-baik di antara satu dengan yang lain." Tragedi itu menunjukkan bahwa usaha perpaduan masyarakat sukar dicapai bila masyarakat Malaysia hidup dalam kemiskinan.
Oleh sebab itu, setahun kemudian, yaitu dalam tahun tahun 1970, guna mengkoreksi ketimpangan akibat masa lalu, Malaysia mulai melancarkan skema Dasar Ekonomi Baru (DEB), yang bertujuan untuk membetulkan ketidak-seimbangan sosio-ekonomi yang terjadi di antara golongan-golongan etnis, di antara wilayah-wilayah, khususnya antara kota dan desa, dan di dalam wilayah yang sama di Malaysia. Strategi yang ingin dicapai dalam 20 tahun oleh DEB ialah: (1) mengurangi dan membasmi kemiskinan dengan menambah pendapatan dan memperbanyak peluang kepada semua rakyat tanpa memandang kaum; dan (2) menyusun kembali masyarakat untuk mengurangkan dan seterusnya menghapuskan identitas kaum mengikut fungsi-fungsi ekonomi. DEB dilakasanakan dalam enam Rancangan Pembangunan yang berlangsung antara tahun 1970 hingga 1995.
Sesuai dengan matlamat (tujuan) DEB, kemajuan dalam menciptakan keadilan di bidang pendidikan mulai terasa pula. Dengan memajukan berbagai cabang pendidikan, khususnya pendidikan ikhtisas (profesional; untuk bekerja mencari upah atau gaji) di bawah skema Dasar Ekonomi Baru (DEB), mulailah terjadi mobilitas sosial secara vertikal yang amat pesat di kalangan orang Melayu khususnya. Sejak itu para angkatan muda Melayu yang terdidik, termasuk yang lulusan universitas dan pendidikan ketrampilan menengah dan tinggi banyak yang meninggalkan daerah-daerah pedesaan untuk kemudian bermastautin di kota-kota seraya bermata pencaharian menjadi pegawai di kantor-kantor pemerintah dan usaha swasta, sebagai kerani, manajer pabrik, dosen dan guru sekolah, peguam (pengacara), dokter, politisi, pengusaha, dll. Banyak di antara mereka bertempat tinggal di kompleks-kompleks rumah susun dan pangsapuri (apartment mewah dan kondominium) atau pun rumah tipe "bungalow" dan di berbagai kompleks perumahan di kota-kota dengan berbagai tingkat kemudahan sosial-ekonomi yang dapat mereka raih dari kemujuran ekonomi negara.
Kemajuan dalam Bidang Pendidikan sejak Tahun 1970
Sulitnya pembinaan perpaduan nasional di antara masyarakat yang "berbilang kaum" atau masyarakat dari berlainan etnis di Malaysia terlihat dari kenyataan, bahwa sampai sekarang pendidikan di tingkat dasar atau rendah masih bercirikan etnis. Jadi, sekolah dasar terbagi tiga macam, yaitu: (1) Sekolah Rendah Kebangsaan (SRK), di mana yang menjadi muridnya ialah anak-anak Melayu; (2) Sekolah Rendah Jenis Kebangsaan (Cina), disingkat SRJK (C), di mana murid-muridnya adalah anak-anak Cina; dan (3) Sekolah Rendah Jenis Kebangsaan (Tamil) atau SRJK (T), di mana murid-muridnya ialah anak-anak India. Di masing-masing sekolah rendah itu masih dipergunakan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar. Namun, isi kurikulumnya ialah mengarah kepada usaha perpaduan kebangsaan Malaysia., dan tidak berorientasi lagi kepada pengaruh luar negeri. Murid-murid dari SRJK (C) dan SRJK (T) masih memerlukan setahun belajar tambahan setelah tamat pendidikan dasar enam tahun, untuk masuk ke tingkat pendidikan menengah rendah. Sejak di tingkat pendidikan menengah rendah hingga ke universitas, bahasa rasmi yang harus dipergunakan sebagai bahasa pengantar ialah bahasa Melayu yang disebut bahasa kebangsaan Malaysia, karena hal itu merupakan ketentuan hukum. Walaupun demikian dalam komunikasi antar etnis di Malaysia di kalangan masyarakat kelas atas tetap masih banyak dipergunakan bahasa Inggeris. Di tingkat menengah atas, pendidikan terbagi ke dalam dua peringkat, masing-masing dua tahun lamanya. Bila murid-murid sekolah menengah atas ingin masuk ke pendidikan ikhtisas (kejuruan; ketrampilan; vokasional di maktab-maktab tiga tahun), mereka cukup berhenti setelah belajar dua tahun di SMA. Bagi mereka yang ingin meneruskan ke jalur akademik di universitas dan yang ingin melanjutkan mempelajari ilmu teknik di luar negeri, mereka harus masuk ke peringkat lanjutan dua tahun lagi, atau setahun lagi bila ingin masuk ke maktab vokasional atau untuk langsung mencari kerja.
Sebelum tahun 1969, Malaysia hanya memiliki dua universitas, yaitu Universiti Malaya (dibangun sejak 1962) dan Universiti Sains Malaysia (1969). Sejak DEB dilaksanakan sebagai dasar acuan pembangunan negara lima buah universitas lagi dibangun antara tahun-tahun 1970 hingga 1984, yaitu Universiti Kebangsaan Malaysia (1970); Universiti Pertanian Malaysia, sekarang berubah wujud menjadi Universiti Putra Malaysia (1971); Universiti Teknologi Malaysia (1972); Universiti Islam Antarabangsa (1983); dan Universiti Utara Malaysia (1984).
Universiti-universiti itu memberikan pendidikan dalam berbagai bidang sains, sastra, agama, budaya, kedokteran, ilmu-ilmu sosial dan teknologi. Ia mempersiapkan tenaga kerja untuk menampung kemajuan industri Malaysia, yang selama beberapa tahun belakangan ini bertumpu pada teknologi elektronik dan sibernetiks.
Di samping universiti terdapat pula dua kolej atau maktab, yaitu Institut Teknologi MARA dan kolej Tunku Abdul Rahman. Juga Malaysia memiliki enam buah politeknik, masing-masing terdapat di Negeri-negeri Perak, Pahang, Kedah, Johor, Kelantan dan Sarawak. Khusus mengenai Institut Teknologi MARA, lembaga pendidikan tinggi ini dibina berdasarkan skim MARA, yaitu Majlis Amanah Rakyat, suatu gerakan yang dibina dalam bidang pendidikan dan dalam bidang keusahawanan yang diperuntukkan bagi mempercepat keikut-sertaan kaum Bumiputera dalam bidang perdagangan dan industri, guna mengurangkan tingkat kemiskinan di kalangan mereka.
Menurut pengamatan penulis, para lulusan pendidikan tinggi di Malaysia tidak banyak yang tertarik untuk mencapai gelar pasca sarjana dan doktor. Sebabnya ialah lapangan kerja telah cukup tersedia baginya setelah selesai pendidikan maktab atau politeknik dan S-1. Gaji awal yang mereka terima umumnya di sekitar RM 1400 atau sekitar Rp 5 juta dalam kurs rupiah: ringgit Malaysia yang sekarang. Uang sebanyak itu telah memungkin mereka untuk memulai kehidupan yang layak, serta dapat pula dengan mudah memiliki mobil yang baru yang diperoleh melalui pinjaman bank yang dicicil selama beberapa tahun.
Rangkuman dan Kesimpulan
Usaha Malaysia membangun sumber daya manusianya untuk membina kesejahteran masyarakatnya secara lebih berkeadilan tidak terlepas dari penderitaan rakyatnya di masa penjajahan Inggeris. Warisan zaman kolonial itu telah meninggalkan rakyat Bumiputera menjadi miskin di negerinya sendiri dan seluruh rakyat Malaysia hidup terkotak-kotak dalam kelompok perkaumannya masing-masing.
Suatu tragedi berdarah telah pernah terjadi pada masa-masa awal kemerdekaan Malaysia akibat meruncingnya perbedaan kesejahteran sosial antar etnis. Hal itu telah menginsyafkan para pemimpin Malaysia untuk mengatur kembali kerangka sosio-ekonomi yang lebih adil, dan memberi kesempatan yang lebih adil pula kepada segenap rakyat Malaysia untuk menaiki tangga sosial guna mencapai kemakmuran yang makin tinggi dan makin merata melalui institusi-institusi pendidikan. Integrasi kebangsaan Malaysia tampaknya masih mengalami tantangan yang berat, tetapi keberhasilan dalam upaya memajukan kesejahteraan ekonomi-sosial telah makin merata dirasakan oleh segenap strata sosial masyarakat.

Rujukan
Hussin, Suffen. 1993. Pendidikan di Malaysia. Sejarah, Sistem dan Falsafah.

Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur. 554pp.
Karim, Mohd. Rais b. Abdul. 1991. Malaysia Kita. Institut Tadbiran Awam
Negara. Kuala Lumpur. 884pp.

Siwar, Chamhuri, Redzwan Othman dan Nik Hashim Nik Mustapha. 1994.

Ekonomi Asas. Utusan Publications and Distributors Sdn Bhd. Kuala Lumpur. 196pp.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment